Parenting Nabawi
__
Abul Abbas Thobroni
(pengasuh pendidikan berbasis fitroh dan karakter
SABA 'Sekolah Aqil BAligh' AL MADINAH pekalongan)

♥ Mahabatullah (mencintai Allah) adalah sebuah ibadah yang paling mulia, bahkan ia adalah puncak ibadah.

♥ Mahabatullah adalah motor penggerak badan untuk menjalankan syariat Allah, mahabatullah yang mendorong manusia untuk mengamalkan perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah.

♥ Mahabatullah adalah kenikmatan terbesar yang Allah karuniakan kepada seorang hamba, karena seseorang yang memiliki mahabbatullah dalam hatinya pasti akan melahirkan banyak sekali sifat yang terpuji.

→ Dan puncak cinta ketika seseorang lebih mencintai Allah dari pada dirinya sendiri, orang tua, anak, karib kerabatnya, dan semua manusia.

» Dari Anas bin Malik, Rosulullah bersabda: “Tiga perkara jika ada dalam diri seorang maka ia akan merasakan manisnya iman: ketika Allah dan Rasuln Nya lebih ia cintai dari pada selain keduanya, ketika ia mencintai seseorang tidak lain melainkan karena Allah, dan ketika ia benci untuk kembali kepada kekafiran seperti bencinya ia ketika dijerumuskan ke dalam api” (H.R Bukhori Muslim)

» Oleh sebab itu menanamkan Mahabatullah dalam hati anak merupakan inti tarbiyah dan pendidikan islam.
Karena Mahabbatullah sebagai pondasi yang paling urgent untuk mewujudkan hikmah manusia diciptakan yaitu beribadah kepada Allah.

» Dan perlu kita yakini bahwa Setiap anak terlahir di atas fitroh suci, Setiap manusia dilahirkan di atas pengenalan kepada sang kholiq, ia berusaha untuk mencintai dan mendekat diri kepada dzat yang telah menciptakannya. Bahkan sebelum dilahirkan terjadi dialoq ilahiyah antara Allah dengan manusia.

» Ibnu Taimiyah berkata: “Hati diciptakan hanya untuk mencintai Allah Ta'ala, itulah Fitroh yang Allah tetapkan atas semua hamba-Nya sebagaimana dalam Shohihain Rasulullah bersabda: “Setiap bayi dilahirkan dalam kondisi fitrah, kedua orang tuanya lah yang menjadikan anak itu sebagai Yahudi, Nasrani atau majusi”. Kemudian Abu Hurairah mengatakan: “Bacalah kalau kalian mau firman Allah ta'ala surat ar-Rum ayat 30"
(Majmu' Fatawa:10/134)

» Imam Ibnu Rojab telah membahas Mabahatullah secara lengkap dalam kitab Istinsyaq Nasimil Unsi Min Nafakhati Riyadhil Qudsi yang terkumpul dalam kitab Majmu’ Rosail Ibnu Rojab:3/296. Di dalam kitab tersebut beliau menyebutkan beberapa kiat untuk menanamkan cinta kepada Allah dalam hati kita dan anak didik kita.

1. Mengenal kenikmatan Allah yang tidak terhitung kepada kita.

Ibnu Rojab berkata: “Sesungguhnya hati sudah ditabiatkan untuk mencintai siapa yang berbuat baik kepadanya. Dan cinta kepada nikmat termasuk bagian bentuk syukur kepada sang pemberi nikmat, dan ini merupakan kewajiban atas siapa yang diberi kenikmatan. Telah dikatakan bahwa bersyukur bisa dengan hati, lesan dan badan” (Majmu’ Rosa’il:3/313-314)

Imam Abu Sulaiman Al wasiti berkata: “Mengingat kenikmatan akan mewariskan mahabbah kepada Allah” (al Mahabbas Lillah Ta’ala:24 karya Imam Ibrahim bin al Junaid)

Maka seorang pendidik harus mampu mengenalkan besarnya kenikmatan yang Allah karuniakan kepada kita, seperti nikmat makan, minum, mata, tangan, rumah, dll.

Demikian juga kenalkan juga kondisi orang-orang yang tidak dikarunaiakan kenikmatan seperti orang yang sakit, orang yang buta, orang yang buntung, orang jalanan yang tidak punya rumah, anak yatim yang tidak punya orang tua, dan lainya supaya anak kita bisa bersyukur kepada Allah.

2. Mengenal Allah dengan nama dan sifat Nya

Al Hasan bin Abi Ja’far berkata: “Saya mendengar Utbah al Ghulam berkata: “Siapa yang mengetahui Allah maka pasti ia akan mencintainya, dan siapa yang mencintai Allah pasti akan taat kepada Nya, dan siapa yang merasa bahagia ketika dekat dengan Allah maka kesuksesan baginya” (Majmu’ Rosa’il:3/314)

Ibnu Rojab berkata: “Di dalam al Qur’an sering Allah memperingatkan dengan ayat-ayat yang menunjukan akan keagungan, kekuatan, kemuliaan, kesempurnaan, kesombongan, rahmat, kemurkaan Allah, dan lain sebagainya dari sifat-sifat Allah yang tinggi dan nama-namanya yang indah. Demikian ada banyak ayat yang mengajak kita untuk merenungkan penciptaan Allah yang menunjukan akan kesempurnaan sang pencipta. Hal ini karena hati manusia difitrohkan di atas kecintaan kepada kesempurnaan, dan tidak ada kesempurnaan yang hakiki kecuali hanya Allah semata” (Majmu’ Rosa’il:3/315)

3. Memperhatikan akan kebesaran penciptaan Allah dari langit, bumi, dan segala isinya.

Imam Malik bin Dinar berkata: “Jika seandainya Allah tidak disembah kecuali bagi orang yang sudah melihatnya maka niscaya tidak ada seorang pun yang akan menyembah Allah, karena Allah tidak bisa dilihat oleh mata manusia (di dunia). Namun seorang mukmin mereka merenungkan akan datangnya malam yang menutup semua bumi, kemudian datang kekuatan siang yang menyingkirkan kegelapan malam. Orang mukmin terus berfikir tentang awan yang berjalan di atas langit dengan membawa air hujan. Mereka melihat kepada kapal yang bisa berjalan di atas lautan dengan membawa manfaat bagi manusia. Mereka merenungkan silih bergantinya musim panas dan dingin. Demi Allah orang-orang mukmin senantiasa merenungkan akan dahsyatnya makhluq yang Allah ciptakan sampai hati mereka yakin kepada Allah, sehingga mereka beribadah kepada Allah bagaikan mereka melihat Allah dengan mata mereka” (Silsilah Rosa’il:3/315)

Imam Dzun nun berkata: “Raihlah pengetahuan kepada Allah dengan 3 perkara: dengan melihat semua perkara bagaimana Allah mengaturnya (dengan sangat rapi), dengan taqdir bagaimana Allah menetapkanya, dengan makhluq bagaimana Allah menciptakannya” (Majmu’ Rosa’il:3/316)

Maka luangkan waktu anda untuk membersamai anak berjalan-jalan melihat alam semesta dan kita bawa anak kepada kehebatan Allah dan menciptakan sampai anak kita mengatakan: “Allah hebat ya mah” “Allah indah ya yah”.

4. Seringlah menyebut nama Allah

Imam Ibnu Rojab berkata: “Dan termasuk perkara yang akan mendatangkan mahabbah kepada Allah adalah memperbanyak dzikir (menyebut nama Allah) bersamaan dengan hadirnya hati.

Imam Dzun Nun berkata: “Siapa yang menyibukan hatinya dan lisanya dengan berdzikir maka Allah akan mencantumkan dalam hatinya rasa kangen untuk berjumpa dengan Allah”

Imam Ibrohim bin Junaid berkata: “Dahulu dikatakan: tanda cinta kepada Allah adalah ketika seringnya berdzikir dengan hati dan lisan. Dan tidaklah seseorang memperbanyak dzikir melainkan akan muncul dalam hatinya rasa cinta kepada Allah” (Majmu’ Rosa’il:3/319-320)

Maka seringlah menyebutkan nama Allah kepada anak didik kita sampai ia merasa bangga dan bahagia dengan Allah.

5. Lakukan pendekatan dengan dialoq imaniyah dan ceritakan tentang kebesaran Allah dengan al Qur’an.

Imam Ibnu Rojab berkata: “Termasuk perkara yang bisa mendatangkan rasa cinta kepada Allah adalah membaca al-Qur’an dengan perenungan dan penghayatan, terlebih ayat-ayat yang berbicara tentang nama, sifat, dan perbuatan Allah yang sangat dahsyat. Dan ketika seseorang sudah cinta dengan amalan ini, maka pasti akan muncul rasa cinta kepada Allah, dan cintanya Allah kepada hamba”. (Majmu’ Rosa’il:3/320)

Dalam shohihain dari Anas bin Malik bahwa ada seseorang yang sholat sebagai imam dan ia setiap rekaat mengakhiri bacaannya dengan surat al ikhlas, maka Rosulullah memerintahkan untuk mempertanyakan alasan kepadanya, maka ia berkata: “Karena ayat tersebut adalah sifat Allah dan aku sangat menyukainya”. Maka Rosulullah bersabda: “Kabarkan kepadanya bahwa Allah telah mencintainya” (H.R Bukhori Muslim)

اللهم اني اسالك حبك وحب من يحبك وحب عمل يقربنا الى حبك

“Wahai Tuhan Ku aku meminta kepada Engkau kecintaan kepada Mu, kecintaan orang yang mencintai Mu, dan kecintaan amal yang bisa mendekatakan diriku kepada kecintaan Mu”

WALLAHU TA’ALA A’LAM